Kegiatan Observasi Laznas BMT untuk Program ASKESOS 2009
23/12/2009 – 10:41 pm | Comments Off

Badan Otonom ICMI, Laznas BMT melanjutkan Program Jaminan Sosial Melalui Asuransi Kesejahteraan Sosial (ASKESOS) terpadu dengan LKM BMT tahun ketiga (2009). Program diawali kegiatan observasi dan sosialisasi guna menyeleksi potensi lembaga-lembaga keuangan mikro di daerah …

Read the full story »
Artikel

Berita

Profil

Usaha Jamaah

Wawancara

Home » Berita

Pamer Kedermawanan, Masyarakat Celaka

Submitted by admin on 23/09/2009 – 10:32 pmNo Comment
Pamer Kedermawanan, Masyarakat Celaka

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu…. ” (QS. Al-Baqarah 271)

JAKARTA–Sosiolog Imam Prasojo, menilai desak-desakan yang terjadi saat pembagian sembako saat lebaran merupakan buah dari penyakit kaum elit yang pamer kedermawanan. Mereka tidak memikirkan keselamatan rakyat. “Ini ada penyakit baru, penyakit pamer kedemawanan. Saat era demokrasi seperti ini ada syndrome charity yang ingin diperlihatkan ke publik,” ujarnya kepada Republika, Rabu (23/9).

Parade seperti ini muncul, kata Imam, dan ini menandakan miskinnya managemen publik. “Kebodohan melakukan manajemen menunjukkan manajemen yang tidak baik,” katanya. Kaum elit, kata Imam, tidak memprioritaskan keselamatan publik. Mereka hanya memprioritaskan kalangan elit saja atau pejabat negara. Seperti halnya penanganan masalah bencana yang tidak jadi prioritas pemerintah. Ditambah lagi, lanjut Imam, adanya kerusakan moral dalam kasus Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang menimpa kedua belah pihak yakni rakyat dan si kaum elit. “Banyak rakyat yang tidak malu dapat antrian menjadi orang yang meminta,” katanya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya desak-desakan saat pembagian sembako ataupun sumbangan gratis. “Ada kerusakan moral rakyat,” katanya.

Yang kedua, imbuh Imam, kerusakan moral kaum elit dalam pamer kedermawanan. “Kerusakan moral terjadi pula pada mereka yang mempertontonkan hal seperti itu,” katanya. Untuk itu, lanjut Imam, perlu ada komitmen untuk membangun sistem. “Kalau ingin bantu kalangan tidak punya, harus mendorong tumbuhnya lembaga pemberdayaan mulai dari tingkat rt,” katanya.

Mereka, kata Imam, harus lembaga yang profesional dengan berbagai minat. Misalnya ingin bantu orang cacat, janda, miskin, anak terlantar, atau yang lainnya supaya lebih spesifik. “Supaya transparansi jelas, pembukuan jelas. Sehingga memudahkan orang yang peduli memberikan sumbangan. Sehingga siapapun atau pemerintah menyalurkan bantuan bisa jelas sasaran,” tandasnya.she/ahi

Salurkan Zakat melalui Lembaga Amil Zakat

Sejumlah lembaga dan badan amil zakat menghimbau agar zakat disalurkan melalui lembaga atau badan amil zakat. “Yang paling baik, kalau mau berzakat salurkan ke lembaga atau badan amil zakat yang profesional saja. Karena mereka tahu kantong kemiskinan dan bisa langsung disalurkan serta tepat sasaran,” papar Presiden Direktur Dompet Dhuafa Republika, Ismail A Said kepada Republika, Rabu (23/9). Menurut Ismail, kejadian seperti itu terulang kembali di Indonesia, karena banyaknya warga Indonesia yang miskin. “Tahu ada pembagian sembako seperti itu, mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya,” ujarnya.

Dengan disalurkan langsung ke badan atau lembaga amil zakat, kata Ismail, bisa didistribusikan langsung ke lokasi kemiskinan. “Bisa door to door kerumah-rumah miskin,” katanya. Lagipula, kata Ismail, zakat tidak harus dibayarkan saat ramadhan. Jauh hari sebelumnya boleh saja. “Kalau ada zakat segera dibayarkan ke lembaga dan badan amil zakat supaya tidak terjadi seperti itu lagi,” katanya. Namun, kata Ismail, dalam kejadian tersebut ada hikmahnya. Fauzi Bowo selaku Gubernur DKI Jakarta jadi mengetahui jumlah warga miskin banyak. she/ah

sumber: republika.co.id

Comments are closed.